Tentang persahabatan, memang sangat manis untuk di bibir. Tapi sangat sulit mewujudkannya. Sehingga tak salah kata orang bijak, bahwa satu musuh itu terlalu banyak dibanding seratus teman.

Banyak pula orang mengartikan persahabatan adalah jalinan yang teramat suci untuk dikhianati. Sebagian orang mengira kalau persahabatan itu sekadar teman biasa yang bisa dilanggar kapan saja.

Persahabatan hakikatnya sebuah produk setelah kita bersosialisasi. Ia memiliki nilai sakral yang berbeda dengan pertemanan. Seorang sahabat saling membutuhkan dan saling mencari. Sementara pertemanan sekadar hubungan yang biasa-biasa saja.

Sehingga dalam pesan leluhur Bugis juga ditegaskan, “Jagaiwi balimmu siseng mualitutui ranemmu wekka seppulo, nasaba rannemmu ritu biasa mancaji bali”.
Artinya: “jagalah lawanmu sekali dan jagalah sekutumu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa menjadi lawan”.

Namun, Andi Fahsar bukan pula pribadi yang mudah tunduk dan mudah menerima apa adanya. Beliau pernah berkata:

” … terhadap lawan sikap kita sudah jelas, namun yang harus lebih diwaspadai jangan sampai ada kawan berkhianat. Sebab, dengan demikian lawan jadi bertambah, dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia (kelemahan) kita …”

Persahabatan memang tak bisa diukur dengan dengan ucapan semata. Perlu tindakan nyata untuk mewujudkan itu. Sehingga dalam Islam dijelaskan bahwa, Hanya orang bertakwa yang akan berteman sampai surga. Saling membantu dalam kebaikan, bertemu dan berpisah karena Allah. Persahabatan bukan sebatas hubungan di dunia, namun ia juga akan menentukan posisi kita di akhirat kelak.

Kini, di tengah serangan Covid-19, kita berada dalam kondisi kecemasan yang amat sangat. Kita dilanda ketakutan dengan penyakit yang mematikan ini. Perencanaan yang sudah kita agendakan mendadak buyar.

Dalam kondisi demikian, banyak agenda yang harus ditiadakan, jangankan duniawi agenda akhiratpun turut terpengaruh. Bone yang berhari jadi ke-690 tahun tak luput terkena imbas. Hampir semua agenda yang berkaitan dengan hari Jadi Bone tersebut diundur, atau mungkin saja batal.

Bahkan proyek yang menggunakan Dana Alokasi Khusus terkena imbas yang sangat tajam. Miliaran untuk rehabilitasi jalan di Kabupaten Bone juga batal ditransfer ke kas daerah.

Untuk itulah dibutuhkan kesadaran bersama dan kerja bersama sebagai persaudaraan kita untuk saling memahami, saling bantu membantu, bahu membahu untuk mewujudkan Bone yang Mandiri, Berdaya saing dan Sejahtera.

Dan semoga saja Bone bisa terbebas dari intaian Covid-19. Selaku pimpinan Andi Fahsar harus mengeluarkan pikiran dan tenaga ekstra demi melindungi rakyatnya. Berdiri di depan adalah wujud kehadiran si Mata Silompoe, Manurungnge ri Matajang, bahwa bukan lagi zamannya kita si anrebale.

Saatnya kita bersatu, karena kita ini adalah sahabat, dan sahabat yang baik tak akan mencelakai, namun akan senantiasa menasehati, melindungi, dan tulus mengasihi.

” Dalam hidup tidak selamanya semua berjalan sesuai keinginan kita. Kita sudah merencanakan namun tetap Tuhan yang menentukan. Kita sudah berbuat baik kepada orang lain namun terkadang kebaikan kita juga bisa disalahartikan sehingga menjadi tidak baik di mata mereka. Mereka sudah menyakitimu, tapi kamu merasa tidak perlu untuk membalasnya”.

Ungkapan seperti itu adalah bagian tak terpisahkan yang dialami dalam diri seorang Andi Fahsar dalam upaya membangun Bone. Namun dengan tegar tetap ia jalankan amanah yang diembannya. Bahkan segala cacian dihadapinya dengan “senyum takwa” tak sedikitpun roman kebencian dan dendam.

(Dari catatan seorang Sahabat)